Menu

Analisis Cuaca Ekstrim (Angin Kencang)

Posted by Admin (ak4037) on 17 Dec 2010
Berita >> Umum

ANALISIS CUACA EKSTRIM (ANGIN KENCANG) BERKAITAN DENGAN KECELAKAAN PERAHU MOTOR

PADA TANGGAL 16 DESEMBER 2010 DI HULU SUNGAI TENGAH - KALIMANTAN SELATAN

I. PENDAHULUAN

Pada tanggal 16 Desember 2010 telah terjadi sebuah kecelakaan kapal motor (klotok) yang mengangkut 20 orang penumpang tenggelam setelah dihantam angin kencang disertai gelombang setinggi 1,5 meter di perairan sungai Awang Landas, Desa Sungai Buluh, Kecamatan Labuan Amas Selatan, Hulu Sungai Tengah, Kalimantan Selatan. Akibat kecelakaan tersebut delapan orang penumpang tewas tenggelam dan 13 penumpang lain, termasuk motoris kapal selamat. Peristiwa tenggelamnya kapal motor sarat penumpang ini, terjadi Kamis (16/12) sekitar pukul 18.00 Wita (Banjarmasin post).

Awal dari terbentuknya fenomena cuaca angin kencang ini disebabkan karena adanya banyak pertumbuhan awan – awan Cumullus yang kemudian tumbuh menjadi awan – awan Cumulonimbus (Cb), awan Cb ini yang kemudian mengakibatkan adanya hujan deras, kilat, petir, guntur dan angin kencang. Awan – awan Cumullus yang kemudian tumbuh menjadi awan Cb ini merupakan awan konvektif yang dibentuk dari keadaan udara yang labil akibat adanya pemanasan secara intensif pada udara lembab dan diperkuat oleh adanya pengangkatan udara akibat adanya mekanisme penumpukan massa udara (konvergensi) dan pusaran eddy ataupun adanya pusat tekanan rendah.

Akibat adanya angin kencang ini mengakibatkan gelombang tinggi pada lokasi tersebut, yang menyebabkan tenggelamnya sebuah kapal motor.

Berikut analisis keadaan cuaca pada saat kejadian angin kencang disertai gelombang setinggi 1,5 meter yang mengakibatkan sebuah kapal motor tenggelam di perairan sungai Awang Landas, Desa Sungai Buluh, Kecamatan Labuan Amas Selatan, Hulu Sungai Tengah, Kalimantan Selatan (Banjarmasin post).

II. ANALISIS DAN PEMBAHASAN

2.1 Analisis Suhu Muka Laut

Gambar 1. Anomali Suhu Muka Laut Minggu ke 2 Desember 2010 Sumber : BOM

Berdasarkan Peta Anomali suhu muka laut di atas terlihat nilai anomali suhu di samudera india atau perairan barat Australia sekitar 1 s/d 2 °C, hal ini menunjukkan bahwa perairan tersebut cukup hangat yang dapat mensuplai energi yang cukup besar untuk proses penguapan serta bertambahnya frekuensi tumbuhnya pusat tekanan rendah. Dengan adanya proses tersebut terbentuk pola angin baratan disekitar wilayah barat Indonesia serta pertemuan angin yang berpengaruh terhadap peningkatan curah hujan diwilayah tersebut.

2.2. Analisis Pola Medan Angin pada tanggal 16 Desember 2010

(Gambar 2. data medan angin 3000feet tanggal 16 Desember 2010 jam 20.00 Wita. Sumber : Bom)

Dari data medan angin diatas terlihat adanya pertemuan angin disekitar wilayah Kalimantan Selatan dan Laut Jawa sehingga memperkuat mekanisme pengangkatan udara dalam proses pembentukan awan. Arah angin disekitar wilayah Kalimantan Selatan dominan dari arah Barat – Barat Laut. Pertemuan angin ini diakibatkan adanya pusat tekanan rendah di perairan barat Australia.

2.3 Analisis Satelit Cuaca

Gambar 3. Citra Satelit tanggal 16 Desember Sumber : BOM

Berdasarkan gambar satelit cuaca di atas pada tanggal 16 Desember 2010 dari mulai pukul 15.00, 16.00, 17.00 dan 18.00 terlihat adanya pergerakan awan rendah dari wilayah Kalimantan Barat menuju Kalimantan Selatan

2.4 Analisis Data Cuaca yang Teramati di BMKG Banjarbaru

  • Analisis Suhu Udara Permukaan

Gambar.4 Grafik Suhu Udara Permukaan di BMKG Banjarbaru

Dari grafik di atas terlihat pada tanggal 16 Desember 2010 adanya trend kenaikan suhu udara dari jam 08.00 Wita s/d 16.00, dengan selisihnya mencapai 7,9°C data ini menunjukkan adanya proses konveksi panas yang cukup intensif dengan kelembaban yang cukup tinggi sehingga memperkuat mekanisme pertumbuhan awan, terlihat banyaknya pertumbuhan awan – awan cumulus yang kemudian tumbuh menjadi awan cumulonimbus (Cb).

  • Analisis Tekanan Udara

Dari data regional terlihat adanya beda tekanan rata – rata pada tanggal 16 desember 2010 yang cukup besar antara tekanan rata –rata di Hongkong International Airport (22° 20’ N dan 114° 11’ E) 1023,3 mb dan tekanan rata – rata di Banjarbaru 1006,5 mb, artinya selisih di wilayah belahan Bumi Utara dan sekitar wilayah Equator cukup besar yaitu sekitar 16.8 mb. Dengan adanya selisih tekanan yang cukup besar kecepatan angin secara regional menuju wilayah Indonesia cukup besar.

  • Analisis Arah dan Kecepatan Angin

Berdasarkan data angin di Stasiun BMKG Syamsudin noor pada tanggal 16 nopember 2010 selama 24 jam. Angin dominan dari arah Barat dengan frekuensi 13% dengan kecepatan maksimum 16 Knot. Kecepatan angin Maksimum teramati pada jam 15.40 Wita yang bertiup dari arah barat (260°) dengan kecepatan 16 knots (30 km/jam) dan pada jam 18.25 Wita yang bertiup dari arah barat (250°) dengan kecepatan 14 knots (26 km/jam).

Gambar.5 Windrose Tanggal 16 Nopember 2010 Sumber : BMKG Syamsudin Noor

Berdasarkan Peta distribusi Kecepatan Angin Pada tanggal 16 Desember 2010 jam 17.00 Wita terlihat kecepatan angin berkisar 6 s/d 16 Knots atau (11 s/d 30 Km/Jam). Kisaran tersebut teramati di 5 Stasiun BMKG Kalimantan. Kecepatan Angin di Pontianak mencapai 12 knots (22 km/jam) dan di Banjarbaru mencapai 16 knots (30 Km/jam).

III. KESIMPULAN

Kejadian kecelakaan kapal motor (klotok) di perairan sungai Awang Landas, Desa Sungai Buluh, Kecamatan Labuan Amas Selatan, Hulu Sungai Tengah, Kalimantan Selatan ini disebabkan oleh adanya angin kencang disertai gelombang setinggi 1,5 meter. Gelombang tinggi tersebut disebabkan oleh adanya angin kencang. Berdasarkan hasil analisis dari data – data pendukung wilayah kalimantan pada tanggal 16 Desember 2010 terlihat adanya proses konveksi dan merupakan daerah pertemuan angin sehingga proses mekanisme pertumbuhan awan cukup kuat yang menghasilkan awan – awan cumullus yang dapat tumbuh menjadi awan Cumulonimbus. Dari data Citra Satelit terlihat adanya pertumbuhan awan di wilayah kalimantan termasuk Kalimantan Selatan.

Adanya angin kencang selain disebabkan oleh adanya awan Cumulonimbus, terlihat dari beda tekanan yang cukup besar antara BBU dengan wilayah equator. Distribusi angin kencang terlihat pada peta distribusi kecepatan angin.

Perlu diwaspadai adanya Anomali suhu muka laut di Perairan Barat Australia mencapai 2°C ini menyebabkan frekuensi tumbuhnya pusat tekanan rendah di wilayahnya tersebut bertambah dan berpengaruh terhadap meningkatnya pertumbuhan awan di Wilayah Indonesia Khusunya Wilayah Barat dan tengah Indonesia (dh-122010)

Last changed: 26 Apr 2012 at 15:07:24

Back

Comments

No comment found

Add Comment

Pembaharuan terakhir pada 22/10/2014 oleh Khairullah

  hit counter script