image004

SEKILAS TENTANG TEKNOLOGI MODIFIKASI CUACA (TMC)

Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) atau dalam istilah awamnya hujan buatan menurut terminologi BPPT (Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi) adalah upaya manusia dalam mengantisipasi atau mengatasi bencana alam yang diakibatkan oleh iklim dan cuaca pada lokasi tertentu dan penerapannya berdasarkan kaidah ilmu fisika terapan.

Jadi jelas bahwa TMC tidak membuat atau menciptakan hujan melainkan membantu pertumbuhan awan dan mempercepat turun hujan (catatan: pencipta hujan adalah Allah SWT dan dikirimkan oleh malaikat Mikail) . Caranya dengan menggunakan pesawat terbang (biasanya jenis CASSA) yang didisain khusus untuk menaburkan zat hygroskopis (zat yang mudah menyerap air) misalnya serbuk garam dapur NaCl di atas awan-awan Cumulus yang sedang tumbuh. Tujuannya supaya serbuk Na Cl tersebut mengikat butir-butir air dalam awan menjadi bintik-bintik air yang lebih besar ukurannya sehingga awan segera menjadi padat dan turun sebagai hujan yang jatuh pada target tertentu di permukaan misalnya untuk mengisi kekosongan waduk dan bendungan serta memadamkan kebakaran hutan..

image006

Sebelum dilaksanakannya TMC , terlebih dahulu dilakukan pengamatan cuaca misalnya :

  1. Adakah awan-awan Cumulus potensial (tinggi puncak awan 3 kali tinggi dasar awan)
  2. Indeks Curah hujan dibanding penguapan : 1,2 (selama 2 dasarian )
  3. Analisis T Laps : suplai uap air = relative humidity di lapisan 850 mb (1500m) dan 700 mb (3100m) lebih dari 60%
  4. Kecepatan angin atas (700mb) tidak lebih dari 20 kts.

Bagaimana dan kapan peluangnya TMC dapat berhasil dilaksanakan di Kalimantan Selatan ?

Hasil pengamatan cuaca di Kalimantan Selatan (Stasiun Klimatologi Banjarbaru) bulan Agustus 2009 menunjukkan bahwa:

  1. Pengamatan awan jenis umumnya Cumulus baru muncul sekitar pukul 13.00 Wita dengan jumlah awan 1 s/ d 4 okta, tinggi dasar awan sekitar 500m dan puncaknya sekitar 1500 m.
  2. Curah Hujan bulanan 24,6 mm dengan penguapan 165 mm , indeks perbandingan 24,6/165=0,15.
  3. Analisis T laps tgl 30 Agustus 2009 , relatif humidity pada 850 mb = 80 % dan pada 700 mb = 40%
  4. Pada tgl. 30 Agustus 2009, kecepatan angin pada level 700 mb tercatat 20 knots dari arah Timur.
  5. Suhu Udara permukaan siang hari pada tanggal 29 Agustus tercatat cukup ekstrim sebesar 35 ˚C.

Dari fakta keadaaan cuaca seperti di atas, maka kecil kemungkinan berhasil jika dilakukanTMC saat ini , kalaupun terjadi hujan hanya sedikit lantaran pertumbuhan awan diperkirakan terhambat karena kurangnya kelembaban udara serta kencangnya angin di lapisan atas, serta panasnya suhu udara permukaan.

Pada Musim Kemarau tahun El Nino seperti sekarang ini ada kecenderungan bulan berikutnya (September dan Oktober) keadaannya tidak jauh berbeda dengan Cuaca bulan Agustus 2009, meskipun di akhir Oktober dasarian III , sudah mulai ada hujan di wilayah Kalsel ( lihat selengkapnya di menu situs : Prakiraan Musim Hujan). Dari fakta cuaca seperti di atas , nampaknya kecil kemungkinan keberhasilan TMC jikalau dilaksanakan sebelum bl. Oktober dasarian III), sehingga upaya penanggulangan kebakaran hutan selama bulan September dan Oktober 2009 dapat ditempuh dengan cara-cara lain misalnya menggunakan pesawat terbang khusus yang langsung mengambil air di sungai dan dijatuhkan pada wilayah kebakaran (water bomb system). TMC di Kalimantan Selatan kemungkinan baru berhasil baik jika dilaksanakan pada bulan Nopember 2009. Wallahu a’lam.