Dampak Global Warming
filed in Klimatologi on Jan.24, 2009
Ibarat tubuh manusia, Cuaca – Iklim juga terdiri dari organ-organ tubuh yaitu udara bumi dan Cahaya matahari. Kalau salah satu organ tubuh tersebut sakit maka dapat dipastikan seluruh tubuh akan merasakan sakit. Begitupun Kalau


Dampak Pemanasan Global
Para pakar berkeyakinan bahwa terjadinya kenaikan suhu udara dalam jangka panjang
akan berdampak mencairnya es di kutub sehingga diperkirakan bakal terjadi keaikan permukaan air laut setinggi 9 – 88 cm di tahun 2100. Jika ini benar-benar terjadi maka pasang air laut dan sunai akan masuk jauh ke daratan sehingga mengakibatkan seringnya terjadi banjir di pesisir-pesisir pantai dan tepian sungai. SaljuSalju Pegunungan Himalaya di India, Kilimanjaro di Tanzania dan Alpen di Italia juga diramalkan akan mencair. Pulau-pulau kecil akan hilang dan tenggelam. Itulah sebabnya Pemerintah Kepulauan Maladewa di Samudera Hindia berencana berimigrasi kenegara tetangganya Srilanka. Bila suhu laut meningkat maka kemungkinan terjadi perubahan arus laut yang dapat mempengaruhi pola hujan dan musim. Cuaca ekstrim seperti hujan es, angin puting beliung, Petir diramalkan bakal meninkat baik skala maupun frekuensinya. Musim menjadi tidak menentu dan sulit untuk diprediksi. Misalnya disatu wilayah terjadi hujan terus menerus sementara di tempat lain terjadi kekeringan yang berkepanjangan. Intensitas hujan cenderung lebih lebat dengan butiran air hujan lebih besar. Sementara itu Hama dan dan penyakit Tanaman mudah berkembang terutama Virus dan serangga. Epidemi nyamuk berkembang pesat didaerah-daerah baru serta banyaknya orang stress akibat panasnya udara disiang hari terutama dikota-kota besar. Biota-biota lautpun akan berimigrasi ke arah Kutub untuk mencari habitat yang lebih nyaman. Pendek kata terjadinya pemanasan global akan membawa dampak yang sangat merugikan, bahkan bisa menjadi bencana bagi mkhluk hidup.

Bagaimana di Kalimantan Selatan
Kalimantan Selatan sebagaimana tempat-tempat lain di
Indonesia pada umumnya mengalami penyusutan areal hutan semenjak 1980-an, sehingga terjadi tanah-tanah kritis di sepanjang Daerah Aliran Sungainya. Bahkan penambangan Batubara yang dilakukan secara serampangan ditengarai juga menambah kerusakan permukaan lahan. Berdasarkan pengamatan ditahun 1980-an di Sangatta Kalimantan Timur dalam setahun hutan yang ditebang sejauh 12 km di sepanjang Daerah Aliran Sungainya (DAS). Akibatnya sekarang, dikala terjadi hujan mudah erosi dan terjadi banjir. karena tiadanya lagi tajuk tanaman dan perakaran yang menahannya. Sedangkan bila kemarau tiba air cepat menghilang, karena berkurangnya mata air dan penyusutan air tanah. Proses sedimentasi sungai akan lebih cepat sehingga sungai menjadi dangkal dan daya tampung dari sungai tersebut menjadi berkurang.Secara mikroklimatologi, hutan menjaga stabilitas suhu udara, tidak cepat memanas
dan tidak cepat mendingin. Hal ini masuk akal karena sekitar 70% materi tanaman terdiri dari unsur air.Berdasarkan observasi pada tanah gundul, amplitudo suhunya (=suhu maksimum dikurangi suhu minimum) lebih tinggi dibandingkan tanah yang ditanami rumput. karena itu pada tanah-tanah kritis akan cepat memanas dan cepat mendingin dibandingkan dengan areal hutan. Akibatnya akan semakin tandus, karena cacing dan binatang lain dalam tanah yang membantu menggemburkan struktur tanah tidak mampu untuk bertahan hidup. Sementara tekstur tanah cenderung berubah menjadi pasir yang tidak mampu menyimpan unsur hara dalam tanah.Dari perubahan permukaan lahan sampai perubahan komposisi udara lokal
dan regional selama beberapa tahun inilah yang menyebabkan suhu udara di Kalimantan Selatan juga mengalami kenaikan, sebagaimana yang di catat di Stasiun Klimatologi Banjarbaru yaitu :
| Periode Dasawarsa |
Tahun | Suhu Udara (°C) | Kenaikan (°C) |
| I | 1976-1985 | 26.3 | |
| II | 1986-1995 | 26.4 | 0.1 |
| III | 1996-2005 | 26.8 | 0.4 |

Pada periode III (dasawarsa terakhir) ternyata kenaikan suhunya lebih tajam yaitu 0.4 °C. Sedangkan pada dasawarsa sebelumnya (II) hanya 0.1 °C. Bila kenaikan suhu udara dirata-ratakan diperoleh angka sebesar 0.25°C setiap dasawarsa atau sekitar 2.5°C dalam satu abad ( tahun 2100 ), persis pada kisaran kenaikan suhu udara
yang diprediksi oleh IPCC. Tanpa terasa memang bumi kita semakin panas.Apa yang harus kita lakukan ?
Pengaruh
Global Warming sudah merambah ke Indonesia wabil khusus Kalimantan Selatan. Diperlukan suatu kesadaran masyarakat dan pemerintah untuk setidaknya berupaya mengurangi laju pemanasan yang sedang berlangsung sekarang ini. Salah satunya adalah Gerakan Menanam Pohon Naasional seperti yang dicanangkan pemerintah SBY. Pohon, terutama yang masih muda lebih banyak menyerap karbondioksida, memcahnya melalui proses fotosintesis dan menyimpan karbon dalam kayunya. Dimulai dari kegiatan menanam pohon dipekarangan rumah, melestarikan pohon-pohon yang sudah ada dan melindunginya, mengisi lahan-lahan kosong dipinggir jalan dengan pohon buah ( bukan jualan buah
),
dan membuat hutan kota. Bagi pemerintah upaya
yang lebih luas misalnya melakukan reboisasi berkesinambungan di areal huta
yang rusak, reklamasi
dan penanaman pohon di arealpertambangan, penanaman mangrove
dan pohon pelindung di pesisir pantai
dan lain-lain.
Selain menanam pohon, upaya lain guna menahan laju emisi CO2 ini antara lain, masyarakat diharapkan lebih memanfaatkan sarana angkutan umum, effisien dalam penggunaan kendaraan pribadi, membiasakan bersepeda angin(=onthel)
dan jalan kaki, menghemat pemakaian energi listrik, tidak membakar semak-semak ketika kemarau selain itu juga untuk menghindari terjadinya kebakaran hutan, mengurangi penggunaan plastik, kertas dan lain-lain.Guntung Paikat, 22 Januari 2009
penulis : M. Yahya, Kepala Seksi Data
Stasiun Klimatologi Banjarbaru
Email : mhyhy[at]yahoo[dot]com
Office : datin[at]klimatologibanjarbaru[dot]com

Mei 25th, 2009 on 20:07
bagaimana cara terbaik untuk mencegah Global Warming yang diakibatkan pemakaian listruk secara besar-besaran ?
Juni 2nd, 2009 on 09:45
terima kasih novi,
saya kira menggunakan listrik harus efisien misalnya pemakaian ac jangan terlalu dingin, menggunakan lampu-lampu secukupnya dinyalakan ketika dibutuhkan saja. Di sisi lain pemerintah mulai harus mengembangkan PLTS (Pembangkit Listrik Tenaga Surya) disamping PLTA yang sudah ada. Sebenarnya untuk PLTU berbahan bakar batubara kurang baik bagi lingkungan karena menimbulkan pencemaran udara.
Juni 10th, 2010 on 23:15
mari tingkatkan rasa cinta thdp lingkungan..
Juni 16th, 2010 on 23:38
Thank you for this valuable post. It changed my approximation
September 24th, 2011 on 11:29
I believe this website holds very wonderful indited subject matter articles.
Oktober 14th, 2011 on 10:58
| F*ckin¡¦ amazing things here. I¡¦m very glad to peer your post. Thank you so much and i am having a look forward to touch you. Will you kindly drop me a mail?
Desember 19th, 2011 on 00:16
Thanks for this excellent and first-rate post i appreciate it thanks for sharing I learned something new these days.